-->

Headline News


Foklore atau Cerita Rakyat tentang Pentingnya Konservasi Air Karst Kabupaten Tuban

Tuban sebagai wilayah yang kaya air dan patut dilindungi keberadaannya lekat dengan nama Kota Tuban itu sendiri. Asal kata Kota Tuban ada yang menyebut berasal dari kata watu tiban (Tuban) dan Metu Banyu, keluar air (Tuban). Dua kepanjangan kata Tuban baik watu tiban dan metu banyu semuanya mengandung makna bahwa Tuban kaya air. Makna Tuban adalah daerah yang sangat kaya kandungan air dan jauh dari konotasi yang menstereotifkan bahwa Tuban adalah daerah tandus dan rawan akan kekeringan. Kata watu tiban misalnya Watu adalah  batuan/litologi; tiban adalah kedatangan, kemunculannya. Tuban wilayah yang kaya air namun keberadaannya tertutup oleh batu kapur. Air bisa didapat dengan proses penggalian sumur, rata-rata sumur di Tuban dangkal dengan kedalaman rata-rata 5-10 meter dengan air yang tidak pernah surut. Sedangkan metu banyu mempunyai pemaknaan yang hampir sama.

Foklore metu banyu diantaranya berasal dari cerita legenda Sunan Bonang atau Syekh Maulana Makhdum Ibrahim. Berikut cerita foklore yang beredar luas dari mulut ke mulut masyarakat :


“Sunan Bonang kedatangan ilmuan dari china yang berkeluh kesah kehilangan buku-buku ilmu pengetahuannya ketika dia berlayar di Tuban. Dengan sigap dan santun, Sunan Bonang menolong kedatangan tamu yang berziarah ke Tuban. Sunan Bonang yang dikenal memiliki sebuah karomah sebagai tanda kewaliannya (kekasih Allah) mengayunkan tongkatnya ke dalam tanah dekat pantai. Seketika itu buku-buku ilmu pengetahuan tamu Sunan Bonang dari negeri china tersebut keluar bersamaan dengan pancuran air. Berkat tanah yang keluar air tersebut sekarang dikenal sebagai Sumur Srumbung yang berlokasi dekat pantai boom tuban”

Mata air sungai bawah tanah yang tertutup batuan gamping, terancam kelestariannya. Debit air telah berkurang 25%, hal ini akibat penambangan kapur untuk semen yang tak perhatikan konservasi air

Foklore atau cerita rakyat tentang Sunan Bonang dan tongkatnya yang mengeluarkan air tersebut mempunyai makna Tuban adalah daerah yang kaya air. Namun untuk dapat mengekplorasi bagaimana sistem hidrologi air tersebut diperlukan ilmu pengetahuan. Sistem hidrologi air yang komplek tersebut harus hati-hati memanfaatkannya, butuh pengetahuan yang cukup. Penggunaan air harus digunakan secukupnya, agar sumber daya air Tuban bisa dimanfaatkan oleh generasi mendatang. Pengeboran air tanah dengan tongkat Sunan Bonang tersebut digunakan untuk menolong orang yang butuh air.

Demikian pula berkembang cerita legenda dari daerah Sidomukti, Kecamatan Brondong yang dulunya bagian wilayah Tuban sekarang masuk Kabupaten Lamongan. Berkembang cerita rakyat tentang lagenda Mpu Supo :

“Cerita diawali dengan perjalanan Mpu Supo yang sedang mencari saudaranya. Disuatu desa, Mpu  Supo bertemu dengan Mpu Suro yang mengaku sebagai saudara. Mpu Supo meragukannya,dan mengajak beradu kesaktian. Dikatakannya, bila Mpu Suro dapat menandingi kesaktianya, Mpu Suro diaku sebagai saudara. Adu kesaktian  Ini diawali dengan memijat Wesi Aji menjadi sebilah keris.Ternyata kedua orang tersebut berhasil membuat sebilah keris, sehingga pertandingan dilanjutkan dengan perkelahian yang berakhir sama kuat.  
Mpu Supo yang merasa lebih tua mengajak bertanding mengangkat batu yang bernama Watu Celeng yang kebetulan terdapat didekat arena. Mpu Suro mampu mengangkat batu, namun ketika meletakan kembali telah menutup satu-satunya sumber mata air tawar didesa ini. Lokasi sumber air  yang tertutup di beri nama Sendang Watu Celeng dan desa ajang perkelahian diberi nama Petcakaran. Berarti pet sebagai mampetnya air, dan cakaran sebagai cakar-cakaran atau berkelahi.”

Bentang kawasan karst, nampak pabrik semen yang berdiri tegak yang mengancam konflik ekologi air. Daerah ini adalah daerah resapan air yang tanahnya sudah beralih menjadi tanah industri. Kawasan resapan air terancam vegetasinya.

Legenda Mpu Supo dan mampetnya air mengingatkan pada potensi konflik penggunaan air bersih. Untuk menghindari konflik tersebut, sumber daya air harus tetap ditutup atau dimapetkan dengan batu.

Demikian pula cerita rakyat mengenai berandal lokajaya yang tak lain adalah Putra Bupati Tuban. Berandal lokajaya yang kemudian dikenal sebagai raden Sahid menghadang Sunan Bonang untuk merampok. Namun Sunan bonang menunjukan sebuah pohon aren, yang buahnya berubah menjadi emas. Raden syahid langsung memanjat pohon aren yang ditunjuk sunan bonang. Namun, belum sampai bisa memtik buahnya, raden syahid terjatuh dan pingsan. Setelah siuman raden syahid meminta maaf kepada sunan bonang dan berniat berguru ke sunan bonang. Kemudian, Sunan bonang mengajak Raden Syahid  menuju Sungai di daerah Sekardadi Kecamatan Jenu. Di sana, beliau menjaga tongkat Sunan Bonang yang ditancapkan pada sebuah batu. Anehnya, beliau tertidur selama 2 tahun. setelah sadar, Raden Syahid diberi pakaian dhalang oleh Sunan Bonang dan di Juluki Sunan Kalijaga, maksudnya Kali dalam bahasa Indonesia berarti sungai , dan Jaga dimaksudkan karena sudah menjaga tongkat Sunan Bonang.
 
Kekayaan sumber daya air di Tuban dapat ditemukan melalui studi tentang hidrologi air di kawasan karst. Berdasarkan penelitian, geospasial tuban adalah daerah penggunungan batu kapur kendeng utara. Bebatuan kapur tersebut menutup sumber daya air yang melimpah dengan aliran sungai bawah tanah yang tertutup batu kapur. Batuan kapur atau gamping cenderung tidak dapat menyimpan air dan hanya mampu meneruskan air sampai ke dalam tanah. Kemudian air terkumpul pada suatu sungai bawah tanah.  Penelitian Bambang Sunarto, Balitbang SDA (2002) menyatakan Tuban kaya akan air yang tersimpan di bawah tanah dengan sistem hidrologi kawasan karst. Sumber mata air besar dan berlimpah terdapat di mata air karst yang muncul dipermukaan seperti Goa Srunggo, Merakurak, dan Goa Ngerong di Kecamatan Rengel. Bahkan aliran sungai bawah tanah yang mengalir secara deras dapat dijadikan pembangkit tenaga listrik yang sebagaian wilayah Tuban belum tersentuh layanan listrik. Penelitian tersebut dilakukan oleh Anggie Priyowinata Teknik Elektro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Pesan cerita-cerita rakyat tersebut di atas agar setiap generasi Tuban bisa menggunakan air sebaik mungkin dan turut melestarikan keberadaaan. Ketahanan air sungai bawah tanah tergantung pada seberapa jauh kita bisa melestarikan daerah resapan air hingga bisa dilindungi disungai bawah tanah yang tertutup batu kapur. Faktor vegetasi tanah seperti kandungan kapur dan pepohonan menjadi penentu air dapat terlindung diperut Bumi Ronggolawe. Salah satu daerah resapan mata air Gos Srunggo di Kecamatan Merakurak adalah daerah yang kini digunakan untuk tambang semen massif dan ekploitatif. Penambangan kapur tersebut dapat berakibat air hujan tidak dapat meresap ke dalam tanah kawasan karst.

3 komentar:

  1. ooh begitu ceritanya
    tuban = tiban
    dan sekarang masih banyak di plosok yang kekurangan air :D

    salam

    BalasHapus
  2. mari kita jaga bersama sumber daya alam air kita, sesuai pesan sunan bonang :)

    BalasHapus
  3. jangan sampai kelestarian lingkungan di Tuban rusak .....mari kita jaga bersama.....okey...

    BalasHapus

Scroll to top